Blighted Ovum yang Diakhiri Kuretase

Standard

Semua berawal ketika usia kehamilan saya 7 minggu. Ini sebenarnya kontrol yang ke-3 kalinya selama hamil. Di RS dan dokter yang biasanya. Sebut saja Dr D. Dr D mulai dengan USG perut untuk mengecek perkembangan janin. Karna dari USG perut tidak terlihat, maka Dr D menawarkan untuk USG Transvaginal. Normalnya, di umur kehamilan 7 minggu sudah terlihat janin di dalam kantong kehamilannya. Ketika dicek, ternyata panjang kantong janin sekitar 0.69 cm atau 6.9 mm, dan belum terlihat calon embrio. Kalo saya browsing, ukuran 0.69 cm itu berarti seharusnya untuk umur kehamilan 5 minggu. Cara menghitungnya, setiap pertambahan 1 mm sama dengan pertambahan umur sehari, ditambah 4 minggu. Jadi ukuran kantong janin yang normal untuk 7 minggu adalah (7-4) minggu * 7 hari(dalam 1 minggu) = 12 mm atau 1.2 cm. Pada saat itu, Dr D sempat memvonis saya kemungkinan mengalami blighted ovum, tapi beliau meminta saya untuk datang 2 minggu lagi untuk diobservasi kembali. Mendengar itu saya langsung lemes :(

Sepulang dari RS, saya langsung browsing mengenai blighted ovum.

Blighted ovum (BO) dikenal sebagai kehamilan tanpa embrio (anembryonic pregnancy), adalah keadaan dimana seorang wanita merasa hamil tetapi tidak ada bayi di dalam kandungan. Pada saat terjadi pembuahan, sel-sel tetap membentuk kantung ketuban, plasenta, namun telur yang telah dibuahi (konsepsi) tidak berkembang menjadi sebuah embrio. Penyebabnya belum bisa diketahui secara pasti, bisa karna kelainan kromosom, kelainan genetik, atau sel telur sedang dalam kondisi kurang baik ketika dibuahi oleh sperma normal atau sebaliknya. Gejalanya hampir sama dengan kehamilan normal, dan hanya bisa terdeteksi melalui USG Transvaginal atau setelah terjadi pendarahan seperti pada keguguran biasanya.

Sejak hari itu, saya jadi sering browsing mengenai blighted ovum. Rasanya tidak tenang sekali. Suami saya berulang kali mengingatkan untuk tetap positive thinking. Sampai akhirnya saya menemukan di suatu forum ibu hamil, bahwa blighted ovum baru bisa dipastikan setelah umur hampir 3 bulan. Karna ada suatu kasus dimana pada umur 7-8 minggu seorang ibu divonis blighted ovum, tapi setelah umur 12 minggu dicek kembali, ternyata janin berkembang normal. Sejak saat itu, saya mulai harap-harap cemas. Walaupun terkadang rasanya sedih sekali kalau membayangkan harus kehilangan janin ini.

Dua minggu kemudian saya kembali ke Dr D, dan langsung USG Transvaginal. Ternyata kantong janin berkembang menjadi 1.52 cm tetapi belum terdeteksi embrio di dalam kantong janinnya. Kalau normalnya, 1.52 cm itu untuk umur kehamilan 7 minggu, padahal umur kehamilan saya sudah 9 minggu. Dan pada umur kehamilan 9 minggu seharusnya sudah ada embrio dan terdengar detak jantungnya. Mendengar itu, saya langsung hening, dan tidak tahu lagi harus bertanya apa. Dr D menjelaskan mengenai penanganan selanjutnya.

Untuk kasus blighted ovum, penanganannya dengan mengeluarkan hasil konsepsi dari rahim. Caranya bisa dilakukan dengan kuretase atau dengan menggunakan obat untuk menggugurkan kehamilan. Namun kuretase dianggap memiliki kelebihan karena dapat mencegah terjadinya infeksi dan juga dapat dilakukan analisis terhadap hasil kuretase untuk memastikan penyebab blighted ovum, lalu mengatasi penyebabnya.

Pada saat itu, jujur saya merasa tidak siap, dan belum bisa memutuskan apa-apa. Kemudian Dr D meminta saya untuk mempertimbangkan dulu di rumah.

Sepanjang perjalanan ke rumahh saya hanya diam membisu dan sepertinya suami saya jadi sangat cemas melihat saya seperti itu. Sesampainya di rumah, saya langsung menangis tanpa suara di pelukan suami dan lama-lama semakin terisak-isak. Rasanya memang saya butuh itu untuk meluapkan semua kesedihan saya. Setelah beberapa saat, ketika sudah bisa berpikir jernih kembali, akhirnya saya pun browsing obgyn yang lain untuk mencari second opinion. Saya masih mencari di RS yang sama, tapi dengan obgyn yang lebih senior. Seminggu kemudian, saya pun mendatangi dokter tersebut dengan harapan yang besar, sebut saja Dr S. Setelah dilakukan pengecekan dengan USG Transvaginal, diketahui bahwa kantong janin saya sekarang berukuran 1.82 cm, hanya bertambah 3 mm dari seminggu yang lalu. Menurut Dr S, memang benar saya mengalami blighted ovum, karna pada umur kehamilan hampir 10 minggu seharusnya memang sudah ada detak jantung embrio. Menurut Dr S, bahkan kuning telurnya pun tidak terlihat. Dr S menyarankan untuk kembali ke Dr D agar segera ditangani. Saat itu rasanya saya sudah tidak punya harapan lagi. Sepanjang perjalanan pulang mata saya sudah berkaca-kaca, tidak sanggup lagi menahan tangis. Pada saat itu sejujurnya saya sudah merelakan kehamilan ini.

Sesampainya di rumah, saya hanya bisa menangis lagi, dan suami saya pun mencoba menenangkan saya dengan menelpon kakak-kakaknya untuk menanyakan pengalaman kehamilan yang normal untuk umur 10 minggu. Semuanya menyarankan untuk menunggu dulu sampai umur 3 bulan untuk memastikan lagi. Saya pun mencoba berkonsultasi dengan teman dekat saya yang profesinya dokter. Dia menyarankan untuk cari third opinion di RS berbeda agar rekam medisnya berbeda, dan mencoba mencari dokter spesialis fetomaternal, yang ahli mengenai kelainan janin. Akhirnya saya pun mencoba browsing kembali dokter spesialis fetomaternal yang track recordnya sangat baik. Akhirnya saya menemukan Dr Y, yang terkenal teliti, dan ahli USG 4D.

Seminggu kemudian saya pun memberanikan diri ke Dr Y, kali ini seorang diri, karna suami sedang tugas keluar kota. Sejujurnya, kali ini saya bukan ingin mencari third opinion, tapi hanya ingin memastikan mendapatkan obgyn yang benar-benar profesional untuk menangani blighted ovum ini. Dr Y pun memeriksa saya dengan USG Transvaginal dan menunjukkan pada saya bahwa ada kuning telur di dalam kantong janinnya, tetapi tidak ada embrio di dalam kuning telur tersebut, sehingga jelas bahwa saya mengalami blighted ovum. Ketika saya bilang bahwa dokter yang dulu mengatakan saya punya kista, Dr Y pun mengecek ovum kanan dan kiri saya, lalu mengatakan bahwa tidak ada kista. Alhamdulillah. Dr Y pun menawarkan untuk penanganannya apakah akan ke dokter yang dulu atau ke Dr Y. Saya pun memastikan bahwa akan ke Dr Y saja (walaupun sebenarnya biaya kontrolnya saja 3x lipat dokter sebelumnya), dan akan kembali lagi minggu depan untuk kuretase, menunggu suami saya datang. Pada kontrol kali ini, Dr Y memberikan saya print hasil USG Transvaginal, detail beserta ukurannya. Kali ini rasanya saya merasa lebih tenang, dan sudah merelakan apapun yang terjadi nantinya.

Tiga hari kemudian saya mengalami flek, yang menandakan bahwa memang ada yang tidak normal pada kehamilan saya. Karna fleknya tidak terlalu banyak, saya pun tetap menunggu hari H untuk kuretase. Semakin hari, flek pun semakin banyak, tapi belum sampai pada tahap pendarahan. Dan kemudian sampai lah pada hari H.

Sebelum kuretase, saya melakukan kontrol dulu dengan Dr Y, dan Dr Y memeriksa apakah sudah ada pembukaan atau belum. Karna belum ada pembukaan, maka saya harus dipasang laminaria sebelum kuretase untuk merangsang pembukaan. Pemasangan dilakukan jam 11 malam, setelah jadwal kontrol Dr Y selesai. Laminaria dimasukkan ke dalam vagina, dan rasanya ngilu sekali. Kata suster, laminaria tersebut nantinya akan semakin mengembang, dan saya tidak berani membayangkan. Setelah memasang laminaria, dokter bilang bahwa saya tidak perlu khawatir, walaupun dipasang laminaria saya tetap bisa buang air kecil ataupun tidur dengan tenang karna tidak akan berasa sakit. Laminaria tersebut harus terpasang sekitar 8-12 jam, jadi kuretase baru dilakukan besok pagi, sekitar jam 7. Malam itu, saya pun rawat inap di RS.

Esoknya, sekitar jam 5 pagi, saya turun ke klinik bersalin, untuk persiapan kuretase. Suster pun mencoba memasangkan infus, tapi selalu gagal karna nadi saya membengkak. Empat kali suster mencoba selalu gagal. Sebenarnya rasanya sangaaaat nyeri, tapi wajah saya datar-datar saja karna terbiasa menahan sakit. Malah suami saya yang hampir pingsan melihat saya ditusuk jarum infus berkali-kali sampai bengkak. Akhirnya suster pun terpaksa memanggil bantuan ke yang lebih ahli untuk menginfus saya. Dan alhamdulillah berhasil pada jam 06.30. Injury time nih. Kuretase akan dimulai jam 7. Kemudian Dr Y pun datang ditemani Dr W yang akan membius saya. Ternyata saya dibius total. Setelah disuntik bius Dr W, beberapa detik kemudian saya sudah tidak ingat apa-apa lagi. Sampai akhirnya saya hanya bisa melihat ruangan putih tanpa batas. Saya bisa mendengar suster-suster bergosip membicarakan kasus infus saya. Saya juga mendengar suara suami saya. Tapi saya tidak bisa merespon apapun. Saya tidak sanggup untuk membuka mata. Berulang kali saya mencoba merespon, tapi tidak sepatah kata pun terucap, hanya berupa dengungan saja. Benar-benar sulit rasanya untuk bangun dari efek bius ini. Sekitar satu jam kemudian, saya mulai bisa memaksakan diri untuk melihat, dan yang saya lihat pertama kali adalah suami saya. Tapi rasanya pusing sekali, sehingga saya pun malah tertidur kembali. Sampai akhirnya saya pun mulai sanggup untuk membuka mata dan berbicara. Perlahan-lahan saya mencoba duduk, lalu minum dan makan. Ketika tekanan darah saya sudah normal, suster pun membolehkan saya pulang. Ternyata kuretasenya hanya berlangsung sekitar 15 menit. Suster memberikan botol yang berisi hasil konsepsi alias kantong janin saya, yang sudah diberikan cairan pengawet. Warnanya kekuningan, dan compang-camping. Katanya itu sudah dibagi 2 untuk RS, untuk diobservasi di labroratorium.

Setelah mengurus semua administrasi, saya pun pulang ke rumah. Kalau ditanya bagaimana rasanya kuretase, jelas saya tidak tahu karna dibius total. Setelah kuretase, perut rasanya nyeri, seperti ketika sedang haid. Kondisinya hampir sama seperti orang yang baru melahirkan. Saya mengalami pendarahan, normalnya hingga 1 s.d 2 minggu setelah kuretase.

Lalu bagaimana kondisi rahim setelah mengalami blighted ovum? Apa bisa hamil lagi?

Blighted ovum tidak berpegaruh terhadap rahim ibu atau terhadap masalah kesuburan. Seseorang yang pernah mengalami blighted ovum dapat kembali hamil normal. Namun jika ibu mengalami blighted ovum berulang, sebaiknya dilakukan pemeriksaan dan pengobatan yang intensif, karena dikhawatirkan adanya kelainan kromosom yang menetap pada diri ibu atau suami.

Saya disarankan oleh dokter untuk menunda hamil dulu selama 3x haid, untuk menyiapkan rahim di kehamilan berikutnya agar lebih kuat. Tapi bukan berarti tidak boleh langsung hamil setelah kuretase, karena banyak kasus ibu yang langsung hamil 1 bulan setelahnya.

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s